Tampilkan postingan dengan label TUGAS KULIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS KULIAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2017

Pertentangan Sosial & Integrasi



Tugas ISD-4 (1)
Dosen  : Ramita Hapsari
Nama   : Meliana
NPM   : 1B115208

Konflik Ambon Tahun 1999

                Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki masyarakat yang majemuk yang terdapat beragam suku, etnik, adat, ras, agama dan bahasa yang berbeda-beda. Di Indonesia terdapat 300 lebih suku bangsa dan memiliki lebih dari 200 bahasa khas yang membedakan suku yang satu dengan yang lainnya. Di Indonesia juga terdapat beragam agama yaitu Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan lain-lain. Oleh karena itu masyarakat Indonesia disebut sebagain masyarakat yang majemuk. Tetapi dalam menjaga persatuan dan kesatuan, Indonesia memiliki semboyan yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Kondisi yang majemuk dengan beragamnya suku bangsa, etnik, adat, ras, agama, dan bahasa dapat menjadikan masyarakat Indonesia rentan akan terjadinya konflik. Rentannya konflik merupakan sebab dari pertentangan kebudayaan antar masyarakat yang berbeda.
Salah satu konflik yang terjadi di Indonesia adalah konflik Ambon (Maluku) pada September 1999 yang merenggut hampir 5.000 nyawa melayang dan menyebabkan penderitaan berupa kemiskinan, menghancurkan sistem sosial pada masyarakat yaitu konflik yang terjadi karena berdasarkan atas identitas agama yaitu agama Islam dengan agama Kristen. Konflik Ambon 1999 ini adalah merupakan tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah hubungan antar umat beragama di Indonesia. Dimana sebenarnya konflik tersebut berawal dari individu dengan individu bukan antar kelompok, yang kemudian meluas hingga menjadi konflik antar kelompok.
Bukan hanya sebagai konflik antar agama yang menimbulkan konflik ini tetapi ada faktor lain yaitu adanya kesenjangan ekonomi dan sosial yang menjadi penyebab konflik. Konflik yang terjadi antara warga Muslim baik pribumi maupun pendatang, yang perekonomiannya dianggap relatif baik karena pekerjaannya sebagai pedagang dan lebih banyak berperan dalam pemerintahan menyebabkan kelompok Kristen merasa termarjinalisasi oleh keadaan tersebut. Konflik ini terbagi menjadi empat babak yang latar belakangnya berbeda. Dijelaskan bahwa isu SARA yang dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan merupakan ikut menjadi pemicu terjadinya konflik agama tersebut.
Konflik yang terjadi di Ambon pada dasarnya adalah konflik yang disebabkan karena adanya kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi pada jaman penjajahan yang kemudian dipicu dengan adanya pertikaian antara preman yang beragama Islam dengan supir angkot yang beragama Kristen. Dalam pertikaian disertai dengan isu-isu SARA yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang berkepentingan sehingga menimbulkan konflik ini semakin luas.
Tradisi Pela Gndong yang sebagai media persatuan masyarakat Ambon atas dasar perbedaan agama, ras, suku, dan adat ini sudah tidak dapat berfungsi lagi karena sudah luntur seiring dengan banyaknya pendatang yang datang ke Ambon. Selain itu dari pihak aparat keamanan juga tidak berfungsi dengan baik karena pada kenyataannya masih ditemukan adanya kerja sama antara pihak yang bertikai secara sepihak.

Usaha memperbaiki / manggulangi masalah tersebut;
  1. Meningkatkan kualitas kehidupan kita. Dengan menyadari adanya beragam budaya maka kita bisa lebih humanis.
  2. Diversitas (keberagaman) merupakan suatu hal yang tidak terhindarkan. Keberagaman tersebut menuntut untuk terjalinnya toleransi antar etnis sehingga diskriminasi etnis tidak akan terbentuk
  3. Kehidupan ekonomi semakin mengglobal dan mengharuskan terjalinnya hubungan dengan berbagai orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Mulai menerima untuk bekerjasama dengan etnis lain untuk memajukan perekonomian tanpa adanya diskriminasi etnik.
  4. Menurunkan stereotip dan prasangka. Stereotip dan prasangka merupakan penyebab terjadinya konflik yang pengaruhnya sangat besar karena streotip dan prasangka akan membuat pemahaman yang salah tentang etnis tertentu yang pada akhirnya membentuk generalisasi yang merugikan banyak pihak (semua kelompok etnis) padahal hanya sebagian (sedikit) dari anggota etnik tersebut yang melakukan perilaku yang merugikan..
  5. Meningkatkan hubungan lebih positif antara etnis mayaoritas dan etnis minoritas (etnis asli dan etnis pendatang). Dalam hal ini etnis pendatang mau meneroma etnis pendatang sebagaai bagian dari keluarga besar Indonesia sedangkan etnis pendatang “tau diri” dengan bersikap baik dan menghargai etnis asli dan mengikuti norma-norma yang berlaku dalam budaya yang ada.
  6. Membangun identitas pribadi yang utuh yang mengandung a) Pengakuan tehadap warisan budaya etnik, b) Memandang diri sebagai individu yang menghargai adanya perbedaan nilai-nilai pada setiap orang.Mengerti keadaan kognitif diri sendiri (seperti stereotip dan prasangka) untuk membangun hubungan dengan teman-teman yang berbeda latar belakang budaya.
  7. Membentuk sikap tenggang rasa, saling menghargai dan bersedia membaur antar etnik tanpa membentuk kelompok eksklusif. 
  8.  
Daftar pustaka;

Minggu, 02 Oktober 2016

Perkembangan Penduduk di Daerah

Tugas ISD-1
Dosen  : Ramita Hapsari
Nama   : Meliana
NPM   : 1B115208


1. Jelaskan perkembangan penduduk di daerah masing-masing !
    Perkembangan penduduk di desa Sait Nihuta. Sait Nihuta adalah salah satu desa di  
    kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatra Utara. Berdasarkan data
    Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir, luas/area Sait Nihuta adalah 1,4 km2  
    jumlah penduduk 680 jiwa dengan 166 rumah tangga. 91 rumah permanen, 61
    rumah semi permanen dan 9 rumah non permanen. Dari segi pertanian luas  area panen di
    Sait Nihuta adalah 31 ha, hasil produksi 167 ton dan dengan produktifitas 5,4 ton/ha.
    Jenis tanaman yang ditanam adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau
    dan kedelai. Di Sait Nihuta rata-rata ternak yang dimiliki adalah babi, kerbau dan ayam.  
    Dari segi teknologi rata-rata penduduk Sait Nihuta sudah bida menggunakan handphone
    dengan tipe yang sederhana. Dalam hal pariwisata, kecamatan pangururan adalah kota
    kecil yang memikat di tepi Danau Toba menyimpan tempat-tempat wisata yang menarik
    untuk dikunjungi baik wisata sejarah, alam, maupun wisata geo.  Temapat-tempat wisata
    tersebut adalah pantai pasir putih parbaba, terusan tano ponggol, komunitas tenun ulos
    batak, pemandian panasaek ranggat, monumen liberty malau, pantai pasir putih situngkir
    dan open stage pasar Pangururan. Belum lama ini juga digelar festival seni dan budaya
    dengan acara yang dipertandingkan adalah lomba uning-uningan, tor-tor sserta vacal group
    di tanah lapang Pangururan karena mengingat budaya Batak yang turun temurun mulai
    terabaikan akibat dari perkembangan zaman, sehingga dengan acara festival seni budaya
    tersebut budaya kita tetap terjaga dan dikenal di kalangan masyarakat.

2. Jika dikaitkan dengan perkembangan dan perubahan zaman saat ini lalu jika dilihat dari
    perkembangan teknologi ayng semakin maju, ceritakan dan jelaskan kondisi daerah di
    Indonesia yang saat ini masih mengalami ketertinggalan IPTEK.
    Berdasarkan daftar daerah tertinggal dari Kemendikbud tahun 2016, salah satunya adalah
    Provinsi Papua.
Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang diberi Otonomi Khusus,
    bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang memiliki keragaman suku
    dan lebih dari 250 (dua ratus lima puluh) bahasa daerah serta dihuni jugaoleh suku-suku
    lain di Indonesia. Wilayah Propvinsi Papua, sebelumnya terdiri atas 14 (empat belas)
    kabupaten dan 1 kota, namun terjadi pemekaran hingga saat ini menjadi 25 kabupaten.
    Provinsi Papua memiliki luas kurang lebih 421.981 km2 dengan topografi yang bervariasi,
    mulai dari dari dataran rendah yang berawa sampai pegunungan yang puncaknya
    diselimuti salju.
Kondisi yang sedemikian rupa menyebabkan sulitnya mobilisasi dari satu
   
daerah ke daerah lainnya. Di samping itu, penduduk di papua mayoritas merupakan
   
penduduk suku yang sangat terikat oleh adat istiadat dan tradisi mereka. Oleh karena itu
   
mereka sangat sulit untuk mengembangkan kualitas diri mereka. Banyak dari mereka yang
   
masih berpikiran tradisional dan enggan untuk menjamah modernitas.
    Kondisi sosial ekonomi mereka sangat memprihatinkan yakni kondisi perumahan sangat
    darurat hidup dalam honai/ owa
(rumah adat papua), pola konsumsi mereka sangat tidak
    teratur
, mereka mayoritas  belum memiliki mata pencaharian yang tetap untuk memenuhi
   
kebutuhan mereka.
    Kondisi sosial masyarakat pada umumnya masih sederhana, tingkat pendidikan relatif
    rendah
, karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Bahkan anak anak di
   
papua yang berada di pedalaman, mereka lebih suka untuk membantu orang tuanya bekerja
   
daripada pergi kesekolah. Dalam bidang kesehatan tidak kalah memprihatinkan, kondisi
   
tempat tinggal mereka serta cara berpakaian mereka sangatlah berpotensi mnyebabkan
   
mereka sangat mudah untuk terkena penyakit seperti, diare, ispa, HIV/ AIDS, dan penyakit
   
lainnya, hal tersebut diperparah dengan jauhnya pusat pusat kesehatan seperti puskesmas
  
dan rumah sakit dari lokasi pemukiman penduduk, hal ini yang menyebabkan kurang
  
cepatnya penanganan kesehatan di wilayah papua.
   Sejauh ini pemerintah telah menyelenggarakan beberapa program strategis dalam rangka
   mempercepat pembangunan pendidikan di Papua. Di antaranya adalah dengan
   menyekolahkan putra daerah (Papua) secara berasrama, pengiriman guru SM-3T untuk
   daerah terpencil, program Guru Garis Depan,  dan masih banyak lagi program yang bukan
   hanya dari pemerintah tetapi juga dari berbagai yayasan yang bergerak di bidang
   pendidikan dan sosial. Program-program tersebut akan menuai hasil yang maksimal jika
   seluruh elemen bekerja sama dengan baik untuk saling mendukung dalam mencerdaskan
   kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945. Jadi untuk membangun pendidikan Papua
   adalah tugas seluruh elemen mulai dari guru, masyarakat Papua sendiri, tokoh adat, pemuka
   agama, aktivis pendidikan, dan gotong-royong seluruh rakyat Indonesia.

Daftar Pustaka

Jumat, 24 Juni 2016

Juru Puisi



Toro, anak kampung dari belitung yang sangat sederhana. Ayahnya seorang buruh pabrik tahu dan Ibunya seorang tukang cuci. Meski hidup dalam keadaan yang serba sulit dia tidak pernah kehabisan akal, selalu ada saja yang dilakukan untuk menghasilkan uang. Menjadi kuli panggul di pasar beras, merawat kambing milik tetangga sampai menggantikan Ibunya menjadi tukang cuci saat sakit.  Semua dia lakukan untuk membatu membayar uang sekolahnya. 

Di sekolah Toro memang tidak rengking satu. Tapi kemampuannya dalam membuat puisi tidak ada yang meragukan. Nilai matematikanya selalu saja merah tapi tidak dengan nilai bahasa Indonesia, sempurna.  Saat hari kemerdekaan, acara perpisahakn sekolah atau sekedar tugas kelas, puisi Toro selalu memukau setiap telinga yang mendengar. 

Cinta adalah mahkota puisi
Musim adalah giwang puisi
Hujan adalah kalung puisi
Bulan adalah puisi
Cincin adalah perhiasan 

Itu adalah puisi yang dibacakan Toro saat di kelas. 

Lewat puisilah dia mengekspresikan perasaannya. Kemampuannya dalam membuat puisi menjadi semakin cemerlang semenjak kedatangan siswi baru di kelas. Marlina, siswi pindahan asal Medan yang telah mencuri hati Toro. Matanya indah memancar bak bulan di langit malam yang penuh bintang. Senyumnya bukan main manisnya, lesung pipi dikedua pipinya lah penyebabnya. Marlina, berasal dari keluarga yang cukup mapan di kampung, ayahnya seorang PNS dan Ibunya seorang guru SD. Dia memang selalu menjadi pusat perhatian dimanapun, pasalnya tidak ada yang menandingi kecantikan Marlina. 

Mata Toto tak berkedip saat menatap wajah Marlina. Namun, Marlina acuh, tak bergeming. Toro selalu memperhatikan gerak-gerik Marlina, selalu. Apapun yang dia kerjakan, apa hobinya, dimana rumahnya, makanan kesukaannya, warna favorit, semua hal tentang Marlina Toro tau. Dia mencari tau lewat tetangga, sahabat, teman-teman, penjaga sekolah dan semua orang yang dekat dengan Marlina. Setiap malam, terbayang-bayang wajah Marlina. Karna Marlina, hari-hari Toro menjadi lebih bersemangat. Di kelas saat yang lain masih di rumah, Toro sudah sampai. Dia rajin bukan kepalang, menyapu kelas. Selalu ada puisi yang dia buat setiap hari untuk Marlina, diletakannya puisi itu di meja Marlina. 

Datangkan seribu serdadu untuk membekukku!
Bidikkan seribu senapa, tepat ke ulu hatiku!
Langit menjadi saksiku bahwa aku di sini, untuk mencintaimu!
Dan biarkan aku mati dalam keharuman cintamu...

Hari berganti, bulan berlalu dan masa SMP akan berakhir dan mamasuki babak baru dalam pendidikan, SMA. Tiga tahun  Toro menyukai Marlina, tapi sejak awal Marlina tetap sama, memandang dengan cara yang sama dan bersikap yang sama, tidak peduli.
Toro mencari tau dimana Marlina akan bersekeolah, akhirnya Toro dan Marlina satu sekolah kembali di SMA. Berkali-kali Toro melihat Marlina bersama laki-laki lain, dibonceng dengan motor vespa saat pulang sekolah. Sejak SMP sampai SMA Toro sikap Toro selalu sama, memperhatikan Marlina. Setiap malam memikirkan Marlina dan berkhayal bisa hidup bahagia dengan wanita itu sepanjang usia.  Toro masih membuat puisi untuk Marlina setiap hari, meski kini tidak selalu disampaikannya karena dia tau bahwa Marlina membecinya sejak SMP. Dari dulu Marlina selalu minta untuk tidak mengirimkan puisi-puisi lagi untuknya. Namun Toro tetap sama.

Waktu dikejar
Waktu menunggu
Waktu berlari
Waktu bersembunyi
Biarkan aku mencintaimu
Dan biarkan waktu menguji
***

Marlina pindah sekolah Tor! Begitu kata Ikin ke Toro dengan tergesa-gesa. Dia kaan pindah ke Balik Papan. Toro kaget sekaligus sedih. Saat itu mereka duduk dibangku kelas 2 SMA. Kurang lebih sudah lima tahun Toro menyukai Malena, tapi kali ini dia harus merelakan Marlina pergi bersama rasa bencinya kepadanya. Tidak ada lagi wanita bermata indah dan berlesung pipi dalam hari-harinya. Dia kehilangan semangat. Toro sering melamun, menjauh dari teman-temannya. Sepulang sekolah Toro hanya melamun. Malam hari kembali melamun sambil memandang langit, melihat bulan dan mengingat kembali wajah Marlina.
Wahai warna-warni yang berkelebat
Tak sudikah singgah sebentar?
Hinggap di hatiku yang biru
Mengharu biru karena rindu


Di rumah, Toro mempunyai kucing peliaharaan yang dia beri nama broni. Malam-malamnya dia lalui dengan broni, dianggapnya sahabat Toro menceritakan tentang Marlina ke broni. Kucing itu dirawat sejak baru lahir, ditemukan di jalan saat hampir tertabrak modil penggangut sayur dari pasar. Seakan mengerti dengan apa yang dialami majikannya, broni terenyuh. Sepulang sekolah, Toro tidak melihat broni. Dicarinya broni kesmua tepat tapi tidak ada. Rupanya, broni mati terlindas truck sampah dekat rumah. Kesendihan Toro semakin parah. Belum lama dia ditinggalkan Marlena, sekarang broni pergi. Tidak ada lagi yang menemani malam-malam sepinya.  

                                                                      ***



*Puisi dikutip dari Buku Ayah oleh Andrea Hirata.


My Little World Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template